Sebenernya ini terjadi Februari 2007, uda rada basi sih..

Kalo mau baca microsoft wordnya langsung, donlot aja di -> Cerita Bodoh Saat Banjir (91 kb)

——————————-

Cerita bodoh saat banjir (based on true story)
Sabtu/3 Feb 07

Hari ini aku bangun lumayan pagi, ya sekitar jam 8. Kulihat komputerku sudah nyala, adikku bermain pangya.

Aku mendatangi ibuku dan bertanya.

”Dimana koran hari ini?”.

Ibuku bilang hari ini tidak ada koran karena banjir semakin tinggi. Saat itu kulihat bagian jalan rumahnya sudah ada genangan sedikit. Kupikir aku lumayan beruntung dibanding orang lain.

Selesai mandi dan makan pagi aku mengusir adikku.

”Minggir dongg, lu kan uda daritadi maen, gantian dong!”

Akupun bermain pangya sampai sekitar jam 11 siang. Setelah itu akupun lapar dan melihat- lihat apakah ada sayur dibawah. Ternyata sayurnya itu2 saja.

”Ah bosen..” pikirku.

Aku mengacak- acak kardus mie dan mendapatkan 3 jenis mie yang berbeda. Mie Gelas, Mie Sedap, dan Sarimi. Terpikir ide untuk mencampurkan ketiga mie itu jadi satu.

Setelah membuka bungkus- bungkus mie tersebut, aku memanaskan air. Selagi menunggu air matang, seperti biasa aku membuka bumbu- bumbu dan menuangkannya ke piring.

”Ngapain lagi ya? Lama banget matengnya nih” . Akupun pergi keluar dan melihat- lihat air yang sudah semakin tinggi dibandingkan waktu pagi hari kulihat air sudah semakin naik.

Sesudah makan siang aku berencana untuk pergi meninjau sudah seberapa tinggi banjirnya.

Dari 3 sepeda yang ada di rumah hanya ada 1 sepeda yang rodanya lumayan tidak kempes. Itu adalah sepeda yang biasa ibuku pakai.

Setelah itu aku pergi berjalan- jalan sekitar kompleks perumahanku, aku melihat ada daerah yang selamat dan ada yang tidak. Rumah- rumah yang baru biasanya aman dari banjir, mereka dibangun sangat- sangat tinggi sekali.

Selesai meninjau kompleks perumahan akupun tidak tahu mau berbuat apa, di rumah bosen.

”Hmm.. ngapain yah? Coba ke jubil ah” , pikirku.

Jubil adalah sekolahku dulu, tempatnya ada di kemayoran.

”Jubil kerendem ga ya? Dulu aja lapangan parkirnya penuh banjir dan sampah..”, pikirku lagi.

Aku keluar menuju rumah sakit satyanegara(rumah sakit dekat rumahku), aku melihat jalan satu arah yang kecil di depannya menjadi sudah menjadi dua arah. Jalan disampingnya(samping kali sunter) sudah terendam cukup tinggi.

Aku malas kalau harus nyempil(berdesakkan), di jalan tersebut. Jalan tersebut sudah sempit malah tambah sempit lagi. Aku pun pergi berputar jalan dan melihat di sepanjang jalan tersebut penuh. Terpikir ide untuk memutar lebih jauh, disana banjir ternyata lumayan dalam, sekitar sepinggang lebih sedikit. Aku menerjang banjir tersebut dengan sepeda, air masuk ke keranjang sepeda. Aku melihat banyak orang yang tidak kuat mengayuh sepeda di padang banjir tersebut.

Dalam hati aku berpikir

”Wah gw kuat juga yah bisa ngayuh sejauh ini”

Setelah itu aku keluar ke jalan raya, di tempat itu juga salah satu jalan telah banjir. Beruntungnya aku keluar lewat jalan yang kebanjiran. Beruntung? Yah baru kali ini aku merasakan naik sepeda di tengah jalan raya tanpa perlu takut tertabrak. Akupun melaju lurus terus menuju perempatan lampu merah. Dan beruntung lagi mobil- mobil sedang ngadat di sebelah kiriku, sepertinya ada mobil yang mogok. Aku pun tancap lurus dan mengambil jalan berlawanan arah karena jalan di sebelahnya banjir lumayan dalam. Ketika itu aku sempat berpikir aku sudah mengayuh sepeda sekitar 1 kilometer, 3 kali lebih berat dari biasanya.

Akupun terus meluncur.. Di depan tempat bermain futsal yang kalau tidak salah bernama planet futsal, tempat itu pernah masuk koran loh. Disana ada beberapa orang yang bermain futsal.

”Buset dah banjir- banjir begini masih ada aja yang maen..”

Padahal di depan tempat tersebut air sudah lumayan tinggi dan siap meluap kapanpun. Setelah itu aku melanjutkan dan bertemu perempatan yang dulu setiap hari kulewati, disana juga lumayan sepi. Walau lampu merah aku langsung tancap gas karena di kiri kanan dan belakang tidak ada kendaraan apapun. Sekolahku sudah terlihat, gedung sekolah lamaku ternyata tidak terendam.

Rupanya sudah ditinggikan”, pikirku.

Akupun masuk sekolah dan melihat mantan sekolahku aman sentosa dari banjir.

”Ini mah ujan ampe 3 kali lagi juga ga bakal masuk aernya..”

Setelah itu aku teringat temanku bernama Haryanto menelpon dan juga sms dari dosenku pak Januar kalau UAS di IBII diundur karena banjir.

Akupun penasaran seberapa tinggi banjir di IBII??

Aku memutuskan untuk pergi ke IBII, melawan arah tentu karena aku ingin melihat Danau Sunter lebih dekat lagi. Aku menyusuri trotoar di samping danau, ternyata airnya sudah hampir keluar.

”Wah ujan sekali lagi bisa keluar ini”

Aku melanjutkan perjalanan dan menemukan banyak sekali pemancing.

”Emang ada ikan ya? Bukannya kalo aer tinggi kaya gini ikan pada ngumpet di dalem?”, pikirku yang awam soal ikan.

Aku mengayuh sepedaku menyusuri danau, menikmati pemandangan danau yang airnya berwarna coklat. Aku melewati rumah kejiwaan Bethesda, aku teringat dulu pernah kesana untuk menemani guruku mengajar disana.

Lumayan lama aku mengayuh, akupun kagum pada diriku dulu yang hanya berjalan kaki sendirian menyusuri danau menuju Hotel Danau Sunter, sepertinya ketika dulu aku masih lebih kuat daripada sekarang.

Di depan pom bensin aku melihat antrean kendaraan. Ternyata kendaraan banyak yang memutar disana. Air lumayan tinggi disana. Ada beberapa mobil jip nekat masuk.

Aku melanjutkan perjalanan dan melihat banyak orang bermain air dan berenang riang di sekitar banjir. Aku berbelok ke kanan menuju GOR(Gelanggang Olahraga) Danau Sunter, tiba- tiba aku diteriaki.

”AMBIL SEPEDANYA!! AMBIL SEPEDANYA!!”, teriak orang- orang di belakangku.

Aku kaget tapi tidak takut, awalnya mereka mengejar tapi setelah aku lumayan jauh mereka berhenti. Aku tahu kalau itu hanya gertakan, mungkin mereka mau membuatku lari cepat- cepat di tengah banjir itu untuk membuatku jatuh. Oh ya, banjir sudah mencapai dadaku.

Aku melewati GOR dan melihat GOR aman- aman saja padahal tepat di sebelahnya banjir tinggi. Tiba- tiba aku melihat ada orang yang menenteng sepeda terperosok lubang, ia terjatuh tapi bisa bangkit lagi.

”Untung dia lewat, ampir aja gw lewat sana”, pikirku merasa beruntung ada ’tanda’ untuk tidak lewat jalan itu.

Aku memutar rada jauh ke kiri dan lewat dengan aman. Setelah itu aku melihat ada orang yang kupikir lumayan kaya, bajunya cukup bagus. Mereka sekeluarga duduk diatas rakit, rakit tersebut ditarik oleh satu orang dan didorong 2 orang.

”Wah keren.. Rakitnya dibuat dari papan, ban bekas, ama bambu doang. Kreatif juga”, pikirku kagum.

Di belokan Hotel Danau Sunter aku langsung belok padahal biasanya aku belok di depannya lagi, aku belok karena orang disana ada yang menginstruksikan mobil untuk belok lewat sana saja. Tapi baru beberapa meter aku berjalan, terpikir sesuatu.

”Mau liat hotelnya ah, banjir apa kaga yah, tapi males balik lagi..”

Aku memutuskan untuk kembali lagi dan melihat hotel. Tiba- tiba ada jip besar melintas, jip tersebut membuat gelombang yang sangat besar, bagai tsunami. Aku tidak terseret karena berpegangan pada sepedaku, ada beberapa orang terseret. Sepertinya itu jip evakuasi, jip tersebut masuk ke hotel. Hotel Danau Sunter ternyata tidak banjir, aman sentosa dilindungi tembok yang lumayan tinggi dan selokan yang cukup lebar. Aku melihat ada beberapa orang di luar halaman hotel, sepertinya mereka orang yang dievakuasi, orang kaya tentunya.

Aku kembali menyusuri jalan ke IBII, capek mengayuh sepeda, akupun menuntunmembawa) sepeda bersamaku. Aku melihat ada motor yang mendahuluiku dan mogok beberapa meter di depan. Ia menuntun motornya juga. Karena sepedaku lebih enteng maka aku bisa mendahuluinya.

”Yes! Lebi cepet dari dia”, pikirku senang.

Tiba- tiba ada jip lewat lagi, kali itu bukan tsunami lagi yang dibuat tapi super tsunami. Aku terbawa arus 1 meter ke belakang, sepedaku melayang di dalam air. Aku berusaha keras untuk menahan sepedaku agar tiba terbawa arus lebih jauh lagi.

Setelah gelombang besar tersebut lewat aku kembali melanjutkan perjalanan dengan baju hampir semuanya basah.

Di perempatan, aku mengambil belokan kedua.

Aku melihat ada orang berjalan jauh di depanku.

”Wah ada juga orang yang jalan- jalan waktu banjir begini”, pikirku padahal sendirinya juga.

Aku berjalan terus, tidak terasa sudah berapa lama dan jauh aku berjalan dalam banjir. Aku melihat ada orang yang menenteng motor Honda mega pro datang menuju ke arahku, ia bertanya apakah di perempatan sebelah kiri banjir dalam.

Aku menjawab.

”Ya banjir lumayan dalam, tadi ada yang terperosok ke lobang. Bapak sebaiknya lewat sebelah kiri saja”, kataku.

Aku memang melihat ada orang terperosok di dalam sana, dan sebagai pengendara motor yang dulu sering lewat sana aku tahu rute aman di daerah yang berlubang itu.

Akupun balik bertanya padanya.

”Pak, banjir ini masih jauh?”

Dia menjawab masih jauh.

Akupun meneruskan perjalanan dan akhirnya berhasil menyusul orang yang tadi jauh di depanku. Rasa bangga pun kudapat kembali.

Beberapa saat kemudian aku melihat ada mobil van Jak TV.

”Wow, berani juga tuh van lewat banjir ini.. Salut ama wartawan Jak TV”, pikirku.

Aku melanjutkan perjalanan dan melihat ada tempat biliar tempat temanku kos, diatas sana ada tempat kos. Orang awam tidak akan tahu kalau diatas ada tempat kos kalau tidak punya kenalan disana. Tempat tersebut aman dari banjir.

Setelah itu aku sampai di perempatan menuju ibii, tiba- tiba ada truk besar melaju ke arahku, lewat jalan di sebelahku. Aku buru- buru keluar dari banjir tersebut. Untung sempat. Sebab kalau tidak bisa- bisa aku terbawa arus lagi.

Di daerah itu lumayan kering. Aku melihat jalan di sebelah kiri yang biasa kulewati banjir juga.

”Untung tadi ga lewat sana”,

Padahal sama- sama banjir.

Aku melanjutkan perjalanan lagi. Aku melihat semakin banyak orang dan truk menuju ke arahku. Aku bingung ada apa yang terjadi.

Aku melihat ada mobil pick up kecil yang membawa motor mogok. Aku berniat membantu tapi aku berpikir untuk menyimpan tenaga saja.

Setelah itu aku melihat Yos Sudarso yang penuh dengan orang- orang yang bermain air. Di jalan tol atas macet. Banyak motor. Di jalan keluar tol banyak kendaraan parkir.

”Mungkin itu kendaraan yang diselamatkan”

Setelah itu aku ke IBII, banjir di IBII ternyata hanya sampai depan- depannya saja. Aku duduk sebentar untuk mengistirahatkan kaki. Satpam di pos memanggilku untuk masuk. Tapi aku tak mau. Aku melihat ada rakit dengan orang- orang diatasnya. Mereka membawa kardus2.

”Mungkin pengantar sembako”

Aku berpikir untuk kembali atau melihat Mal Kelapa Gading yang temanku bilang sudah terendam.

Aku memutuskan untuk pergi ke rumah temanku Budi di belakang mal.

Aku melihat banyak delman mondar-mandir mengantarkan penumpang di Yos Sudarso. Aku melihat banyak sekali orang di Yos Sudarso di depan jembatan Kelapa Gading. Aku juga melihat jalan di sebelah kiri Kelapa Gading ternyata kering. Aku kemudian naik sepedaku lagi dan mengayuhnya, Ternyata rantainya sudah copot. Aku tidak tahu kapan copotnya. Aku pun membetulkan rantainya dan kembali mengayuh. Tak tahunya di depan Makro banjir. Aku memutuskan untuk kembali menuntun sepedaku saja. Disana banyak sekali truk- truk super besar yang lewat. Aku berkali- kali terbawa arus. Aku berjalan terus menuju bundaran Kelapa Gading yang biasa disebut Bunderan Gading oleh teman- temanku. Kakiku mulai capek, tapi aku tetap jalan. Akupun memutuskan untuk melewati ruko- ruko di samping saja agar tidak terbawa arus. Setelah beberapa lama berjalan aku merasa haus, sangat haus sekali. Aku melihat ada 2 penjaga keamanan menjaga ruko, awalnya aku ragu untuk meminta minum pada mereka. Tapi aku beranikan karena aku benar- benar haus. Satpam tersebut tidak hanya memberiku air tapi juga biskuit. Mereka bertanya apakah aku ingin tambah lagi, tapi aku tidak enak jika persediaan air mereka habis. Aku istirahat sekitar 2 menit disana, mereka memberiku tempat duduk. Betapa baiknya mereka. Aku mengucapkan terima kasih banyak pada mereka dan pergi.

Beberapa lama berjalan, aku merasa tidak kuat lagi, aku merasa ingin pingsan. Tapi di pikiranku aku bertekad kuat untuk terus. Aku berpikir untuk tidak mati konyol di banjir. Setelah berjuang sekian keras akhirnya aku sampai di Bunderan Gading. Disana banyak sekali Truk besar, mobil, dan angkot di bunderan. Mereka diparkir di bundaran tersebut. Taman di bundaran hancur lebur, penuh sampah dimana- mana. Akupun bertolak menuju mal, disana ada tanjakan. Aku istirahat disana. Aku lemah sekali waktu itu. Aku melihat ada petugas keamanan berpakaian preman. Aku bertanya apakah boleh lewat mal untuk menuju belakang mal, ternyata dia bilang tidak boleh. Aku bertanya apakah ada telpon. Dia bilang telpon umum koin ada di dalam mal. Itu juga aku tahu. Padahal maksudku bertanya apakah ada handphone. Aku bertanya padanya apakah ia membawa handphone. Dia bilang tidak bawa, kalau tugas tidak boleh bawa. Padahal tadi aku lihat di kejauhan dia sedang bermain- main handphone. Aku melihat jam di toko di depanku, jarum jam menunjukkan jam 3. Ternyata aku sudah berjalan 3 jam penuh.

Aku memutuskan untuk pulang saja, tidak kuat lagi menuju rumah temanku.

Aku bertanya kembali padanya apakah untuk naik ke truk- truk besar tersebut diperlukan biaya. Dia bilang tidak tahu. Aku memutuskan untuk bertanya pada orang di sekitar truk- truk tersebut dan menitipkan sepedaku padanya. Aku pergi ke bundaran dan bertanya kepada seorang anggota marinir, ia bilang ada truk ke Sunter. Aku senang sekali, kemudian aku bilang padanya kalau aku ada sepeda. Ia menyuruh aku untuk membawa sepedaku kesana. Aku kembali ke mal dengan susah payah dan melihat petugas tadi tidak ada. Ternyata dia ada di kejauhan. Aku pikir petugas itu tidak punya empati sama sekali padaku. Mungkin karena aku seorang chinese. Aku baru sadar kalau keranjang kawat sepedaku sudah jebol bagian dasarnya, tangan kananku sudah sangat hitam karena membetulkan rantai sepeda berkali- kali.

Ketika aku sampai di bundaran, aku mencari- cari orang tadi, Dia kemudian pergi bertanya pada temannya yang supir. Aku mengikutinya. Ternyata supir itu bilang tidak ada. Aku shock. Tadi dia bilang ada padahal. Orang itu berpura- pura pergi ke belakang truk untuk mengecek keadaan fisik truk, ditunggu selama beberapa menit juga belum kembali. Aku melihat dia menghilang. Aku haus sekali. Aku berkeliling untuk mencari anggota marinir lain, ada segerombol marinir kira- kira ada 3 -4 orang. Aku bertanya padanya apakah ada truk yang menuju Sunter. Mereka tidak tahu. Aku kemudian meminta minum padanya. Mereka bilang sudah habis. Aku haus dan pusing. Aku menundukkan kepala sambil memasang wajah lesu. Beberapa saat kemudian ada seorang anggota yang menyuruhku untuk istirahat, ia menyandarkan sepedaku pada mobil dan memberi makan Indomie. Indomie yang langsung dimakan mentah- mentah. Ia memberikan bumbu pada mie dan meremas- remasnya.

”Cara makannya begini”, katanya.

Aku berpikir apa gunanya mie itu padahal aku kehausan. Akupun memakan sedikit, rasanya tenggorokan kering sekali. Aku pun bertanya apakah tidak ada air minum disini. Salah seorang anggota kemudian memberikan tasnya. Di tas itu ada selang. Aku disuruh menyedot air dari selang itu. Aku menyedot air lumayan banyak.

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka, ada air tapi tidak mau berbagi. Mungkin saja persediaan mereka tinggal sedikit. Siapa tahu.

Aku kemudian disuruh untuk bertanya pada supir- supir truk. Mereka bliang siapa tahu ada supir yang menuju ke Sunter. Akupun menitipkan sepedaku pada mereka dan pergi berkeliling. Ada satu supir yang bilang mau menuju Mangga Besar dan kemungkinan lewat Sunter. Tapi dia tidak berani jamin aku bisa naik karena yang menyewanya adalah sebuah keluarga besar. Mendengar kata ’menyewa’, aku merasa sudah tidak ada harapan untuk kembali. Itu berarti aku harus menyewa truk untuk pulang ke sunter padahal aku tidak membawa uang sepeserpun. Akupun kembali berkeliling dan hasilnya nihil. Tiba- tiba aku melihat ada orang yang bertanya kepada seorang bapak, kalau mau ke Sunter bisa naik truk ini. Bagai cahaya harapan mendengar kata ’Sunter’, aku ragu- ragu untuk bertanya padanya tapi kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Ia bilang aku harus bertanya pada pak Iwan selaku penyewa truk tersebut. Aku mendatangi pak Iwan yang kebetulan berada di sekitar truk.

”Pak truk ini ke Sunter ya? Boleh saya ikut?”, kataku

Bapak itu awalnya ragu- ragu tapi dia langsung bilang

”Oh boleh boleh masuk aja”

Kemudian aku bilang padanya kalau aku membawa sepeda. Ia bilang bawa saja sepedanya.

Akupun kembali ke tempat marinir tadi dan mengucapkan terima kasih banyak pada mereka, aku pergi ke belakang truk.

Truk penuh sekali, karena aku pendatang baru maka aku tahu diri. Aku jadi tidak enak membawa- bawa sepeda besar. Setengah sampai satu jam kemudian ada bapak tua yang ingin menumpang naik, dia ingin ke BSD. Dia menggembar gemborkan kalau kemarin dia pergi dari Kelapa Gading jam 7 malam dan sampai di BSD jam 4 pagi. Aku tidak peduli.

Truk pun berjalan, berjalan sangat pelan sekitar 10km/jam. Kami berjalan menuju Gading Kirana gerbang selatan. Disana beberapa penumpang diturunkan. Disana juga aku tahu kalau ternyata truk itu hanya disewa oleh pak Iwan. Pak Iwan kerja sosial. Baik sekali dia. Di Gading Kirana kami menunggu sekitar satu jam, tidak tahu menunggu apa. Kemudian kami pergi bertolak keluar. Belok ke kanan dan lurus menuju ke Gading kirana gerbang lain. Disana ada lubang besar, kami sampai jatuh semua. Untung sepedaku selamat. Aku melihat jam di pos disana. Ternyata sudah jam 6. Disana kami menunggu sekitar satu jam, banyak orang naik disana, tidak ada tempat untuk sepedaku. Aku merasa sangat tidak enak tapi ada marinir yang bilang sepedaku ditaruh diatas saja.

”Untung saja masih ada tempat”, pikirku.

Saat itu aku teringat rumah, aku tahu orang rumah pasti mencariku. Handphone orang- orang disana sudah mati semua. Yang hidup low battery. Aku pun mengurungkan niat untuk meminjam.

Truk kemudian melaju menuju keluar kompleks, aku melihat jam di pos menujukkan pukul setengah delapan. Truk kemudian keluar menuju Gading Kirana gerbang selatan lagi. Sepertinya mereka ingin menjemput lagi. Disana pak Iwan bertemu dengan saudaranya pak Agus. Ia bilang Sunter sudah tidak bisa dilewati, air di Danau Sunter sudah tinggi. Aku tahu memang sudah tinggi tapi aku melihat banyak truk melaju disana siang tadi. Aku memutuskan untuk tidak bicara apa- apa. Tiba- tiba ada seorang bapak yang bilang mereka tetap harus ke Hotel Danau Sunter. Mereka bilang sudah booking tempat disana. Mereka tidak enak membatalkannya karena yang membookingnya orang lain dan bookingannya banyak. Ia juga bilang anaknya kasihan, sudah malam tapi belum mendapat tempat berteduh. Pak Iwan bilang harus tetap ke Cawang dulu karena takut truknya mogok di tengah jalan. Beberapa jam lalu juga truknya mogok karena hanya mengikuti kemauan penumpang saja. Ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi dan banyak yang terlantar. Setelah perdebatan yang cukup lama akhirnya diputuskan untuk jalan dulu, kami pun keluar gerbang dan menuju pom bensin di sebelah Mal Artha Gading.

Disana kami bertemu dengan satu truk militer juga. Mereka bilang mungkin akan lewat Sunter. Aku yang sejak tadi bingung menjadi senang karena kembali ada harapan. Akhirnya grup Sunter turun dari truk, aku membawa sepedaku turun juga. Tapi orang yang mengkoordinir truk bilang kalau bawa sepeda tidak bisa. Aku bilang kalau tadi sepedanya ditaruh diatas truk, tapi dia bilang tetap tidak bisa padahal diatas ada rakit kosong dan seorang tentara, tinggal ditaruh saja sepedaku disana. Ia juga bilang.

”Kalau bawa sepeda mending kamu kayuh saja sampai rumah”, katanya sambil bilang dengan senyum menyebalkan dan dengan sedikit tertawa.

Aku membalas.

”Pak saya sudah tidak kuat mengayuh, tolong pak saya ingin naik..”, kataku memelas.

Ia menjawab.

”Kalau kamu tidak kuat kenapa kamu bawa- bawa sepeda”, katanya sambil tertawa bersama dengan anggota marinir di sebelahnya.

Aku langsung berpikir kalau orang ini jahat sekali, tidak ada rasa empati sedikitpun. Aku langsung berpikir kalau pak Iwan baik sekali memperbolehkanku untuk naik. Memang kebanyakan orang seperti orang tadi. Berbuat baik hanya kalau ada imbalan dan tidak mau susah. Pak Iwan dan 2 satpam tadi lain.

Tiba- tiba pak Iwan bilang kalau melewati Danau Sunter akan dicoba, rombongan Sunter pun naik kembali ke truk dan sepedaku ikut naik lg.

Kami pun jalan dan berhenti di depan Mal Artha Gading. Ada yang mau ke wc. Aku juga ikut ke wc. Balik dari wc, pak Iwan dan seorang bapak tadi kembali berdebat untuk tetap ke Hotel Danau Sunter. Aku juga berpikir keras, apakah aku harus mengikuti mereka ke Cawang dan Senen? Pak Iwan juga bilang ’kemungkinan’ akan ke Danau Sunter. Itu baru kemungkinan dan aku benci kemungkinan. Aku ingin kepastian. Truk sudah mau pergi.

Akhirnya aku memutuskan untuk turun di Mal Artha Gading dan melanjutkan pulang dengan sepeda.

Aku merasa badanku sudah cukup kuat.

Pak Iwan pun memaklumi, marinir disana juga bertanya bekali-kali apakah aku yakin. Aku dengan tegas menjawab.

”Ya saya yakin pak”, kataku

Akupun berterima kasih banyak pada pak Iwan dan para marinir itu.

Aku melanjutkan perjalanan, ternyata salah satu jembatan di Mal Artha Gading sudah menjadi posko, banyak sekali tenda disana. Aku mencoba melewatinya tapi ternyata tidak bisa. Aku kembali. Aku harus melewati banjir kembali untuk memutar di jembatan. Aku lelah sekali, tiba- tiba ada mobil lewat membawa gelombang besar, aku berusaha keras untuk menaha sepedaku yang melayang.

Setelah sampai di jembatan yang kering, aku kaget. Jalan Yos Sudarso ternyata sudah lebih tinggi dari sejak tadi siang aku datang. Akupun memberanikan diri untuk terjun ke air walaupun badanku sudah lemah. Aku menyusuri jalan tersebut, hanya ada beberapa orang disana. Air sudah dingin sekali. Tubuh serasa membeku. Aku terpaksa mengikuti jalan, tidak berani lewat bawah jalan tol, aku takut kalau terjatuh ke dalamnya dan bisa naik ke permukaan lagi. Aku terperosok ke dalam lubang tapi berhasil bangkit dengan susah payah. Akhirnya aku berhasil menyebrang. Aku bertemu dengan pengendara motor dan bertanya padanya kalau banjirnya masih jauh apa tidak. Tapi dia hanya ngedumel dan pergi. Aku merasa sangat sangat haus sekali. Aku sudah pusing, serasa mau pingsan. Tenggorokan sangat kering. Daritadi hanya minum air ludah. Tidak ada siapapun disana. Aku sendirian di tengah banjir di malam yang dingin. Aku pun tidak peduli akan air banjir, aku meminum air banjir tersebut sekitar 3 teguk. Dengan tangan penuh oli. Rasanya sudah mau mati saja.Aku berdoa pada yang diatas agar aku bisa pulang dengan selamat. Selama seharian ini aku sudah berdoa beberapa kali. Ketika aku kehilangan harapan aku juga berdoa dan menemukan pak Iwan. Ketika bingun mau kemana saat di Artha aku juga berdoa dan memutuskan untuk tinggal. Setelah berjalan beberapa lama aku melihat ada cahaya. Cahaya tersebut berasal dari pos satpam showroom Toyota. Sepertinya tempat itu memakai genset. Tempat yang lain sangat gelap gulita, sangat seram. Aku ragu, apakah aku melanjutkan perjalanan atau berhenti di pos tersebut? Kalau melanjutkan aku yakin kalau banjir tersebut tidak terlalu jauh tapi hari sudah semakin larut dan dingin sedangkan aku kehausan dan lemah.

Aku memutuskan untuk minta ijin untuk menginap di pos satpam sehari saja.

Aku kembali ke pos satpam tersebut, ternyata sangat sulit, arus air berlawanan dengan arahku berjalan. Sangat2 sulit. Akupun terbawa arus berkali- kali. Tapi aku tidak menyerah, aku tidak ingin mati konyol disini pikirku saat itu. Dengan sekuat tenaga aku menarik sepedaku yang melayang- layang dan melangkah dengan badan miring. Beruntung menurutku. Dulu aku pernah latihan melawan arus di kolam arus di kolam renang Ancol selama 2 jam. Akupun memiringkan badanku sampai kepalaku masuk air, mencoba menembus air sambil menarik sepeda. Akhirnya aku berhasil sampai di depan pos satpam.

Disana aku berteriak pada satpamnya, aku heran darimana asal suaraku itu padahal tenggorokan sudah kering.

”Pak! Numpang tanya! Saya boleh nginep disini satu malam aja ga?”, teriakku dengan tenggorokan sakit.

Satpam itu bingung, dia bertanya pada temannya, Kemudian dia menyuruhku untuk masuk dulu. Masuknya sangat- sangat sulit. Aku harus mengangkat sepedaku melewati barikade tembok besi setinggi diriku. O ya air di depan sudah mencapai sedada lebih sedikit. Akhirnya satpam itu datang membantu mengangkat, tangan kananku sudah mati rasa. Sudah terlalu banyak dipakai sepertinya. Beberapa saat kemudian satpam tersebut berkomunikasi dengan temannya melalui walkie talkie. Aku jelas mendengar.

”Ada anak yang mau ke Hero ya? Ok suruh aja kesini, cepat. Ganti”.

Saat itu aku sangat senang, benar- benar senang.

Satpam tersebut segera menyuruhku pergi lurus ke pojok dan belok ke kiri. Disana sudah ada orang- orang yang menungguku. Mereka menyuruhku untuk segera menaikkan sepedaku ke atas. Ada yang membetulkan rantai sepedaku, ada juga yang memberiku minum. Aku minum sangat banyak sekali. Aku tidak tahu sudah berapa gelas yang kuminum tapi perutku belum kembung. Setelah puas minum aku naik ke truk bersama mereka, truk tersebut tidak terlalu besar. Truk tersebut belakangnya hanya berupa lempengan besi saja. Sepertinya truk itu untuk membawa motor. Kami pun pergi keluar. Aku melihat banyak sekali mobil- mobil disana ditaruh diluar. Di beberapa gerbang ada pos satpam yang penuh dengan karung.

Kami sampai pada pos satpam di bagian samping belakang. Sepertinya hanya pos ini saja yang dibuka. Kami pun pergi keluar, hawa dingin sekali, bajuku yang basah membuatku lebih kedinginan lagi.

Kami kemudian menembus banjir. Cipratan banjir seakan tidak kugubris, yang penting bisa pulang, pikirku. Aku melihat banyak pabrik di sekitar situ mempunyai pompa untuk membuang air ke jalan. Pantas airnya tinggi sekali disana. Kami melewati warung di pinggir jalan. Kami diteriaki untuk pelan- pelan, warung disana sudah terendam tinggi. Banyak orang yang memelototi kami. Truk pun berjalan lebih pelan. Kami terus berjalan dan akhirnya sampai di perempatan. Kami belok ke kiri. Beberapa meter setelah belokan truk mulai mogok- mogok sedikit. Banyak air keluar di bagian mesin. Supir pun memutuskan untuk mundur. Supir bilang tidak bisa lewat. Aku langsung kaget, tapi apa mau dikata. Kalau tidak bisa ya tidak bisa. Kami pun kembali pulang, saat pulang ada beberapa orang warung yang ikut numpang. Mereka turun ketika kami sampai di gerbang.

Di tempat tadi, aku disuruh telpon ke orangtuaku dulu. Aku telpon dengan susah payah, tanganku hitam- hitam semua. Akhirnya aku menggunakan tisue yang ada di sampingku untuk memegang gagang. Setelah menelpon ke rumah, aku disuruh cuci tangan dulu. Aku mencuci tangan sekitar setengah jam. Tanganku masih lumayan hitam tapi sudah tidak lengket. Sampai di sebuah ruangan aku sudah dimasakkan Indomie goreng. Aku disuruh makan. Aku sangat tidak enak hati, sudah diberi kebaikan sebanyak ini. Selesai makan Indomie, salah seorang dari mereka menyalakan televisi. Mereka menyuruhku nonton saja kalau bosan. Mereka jadi repot karena aku, aku tahu memboroskan listrik dari genset tidak bagus tapi mereka tetap menyuruhku nonton. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan,

Beberapa saat kemudian salah seorang dari mereka memberiku baju dan celana panjang. Ia menyuruhku mengganti baju tersebut, baju itu buatku katanya. Ternyata celananya kesempitan, bajunya pas. Akupun kembali ke ruangan tadi, dan setelah kuperhatikan baik- baik ternyata di depan ruangan itu ada tulisan ”R.Driver”, berarti ruangan pengemudi. Ternyata mereka pengemudi. Merekapun menyuruhku tidur saja kalau ngantuk. Ada salah seorang dari mereka memberikan roti untuk kumakan, tapi aku tidak enak padanya karena tadi sudah makan jadi aku bilang kalau sudah tidak lapar. Beberapa saat kemudian ada yang datang membawa pop mie, ia juga menawarkannya untukku. Bisa- bisa aku cepat gendut jika tinggal disana. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan ac, padahal sudah dingin. Akupun mematikan ac tersebut ketika mereka sudah pergi. Televisi menyala terus, di layar sedang ada kontes dangdut. Aku benci dangdut. Kumatikan saja televisinya. Setelah itu aku duduk dan menutup mata. Aku ingin tidur tapi tidak bisa. Salah seorang dari mereka kemudian datang, dan bilang ga usah malu- malu. Ia menyalakan lagi televisinya, volumenya juga dikeraskan. Berisik sekali. Ia menyetel film dracula di trans. Akhirnya aku mengecilkan volumenya.

Aku tertarik dengan cerita dracula tersebut, akhirnya aku menonton saja daripada pusing tidak bisa tidur. Sekitar jam setengah sebelas, ada orang yang datang ke ruangan dan bertanya kalau aku mau pulang hari ini atau besok.

Aku berpikir, dan aku memutuskan untuk pulang hari itu juga.

Aku langsung mengganti pakaian, karena aku tahu aku tidak berhak menerima pakaian tersebut. Mereka sudah terlalu baik. Saat keluar aku kaget, ternyata sudah ada truk yang ada mobil kijang diatasnya. Truk tersebut untuk mengangkut mobil mogok sepertinya. Baru kali ini aku melihat secara dekat truk seperti itu. Sepedaku tidak muat. Akhirnya diputuskan sepedaku ditaruh diatas atas truk, ada ruang kecil antara besi dan ruang pengemudi disana. Aku berdiri di antara besi dan mobil, untung muat. Aku menahan agar sepedaku tidak jatuh. Mereka bertanya kepadaku kenapa baju yang tadi tidak dipakai, aku bilang tidak enak mereka tetap memaksa tapi aku juga memaksa. Kalau soal keras kepala aku lebih hebat. Mereka bilang baju tersebut baru, aku tahu baju tersebut baru tapi malah lebih berat lagi untuk menerima baju baru.

Akhirnya kami pergi. Saat menuju pintu keluar, angin dingin semakin menusuk bajuku yang basah. Tiba- tiba hujan turun, hujan yang lumayan besar. Dingin, sangat dingin sekali. Seluruh badan menggigil. Tapi aku yakin kalau mau pulang harus kuat menahannya. Dengan kecepatan 10 km/jam diatas banjir, aku terguyur hujan dan didera angin malam yang sangat dingin. Di perempatan tadi ternyata kami belok ke kanan bukan ke kiri. Aku heran kenapa belok ke kanan. Di tengah jalan kami bertemu dengan truk container besar yang rodanya terpelosok di lubang, sepertinya mereka tidak bisa keluar tanpa ditarik.

Di ujung jalan kami berbelok ke kiri, berjalan terus menuju ke arah pintu tol. Di sekitar kami sudah menjadi lautan. Di pintu tol, aku heran masih ada saja satu pintu yang buka. Kamipun berjalan menyusuri sisi kiri tol, angin disana lebih dingin dari yang tadi tapi hujan sudah mengecil. Aku melihat sebagian jakarta gelap gulita, lampu jalan tolpun mati.

Dengan kecepatan sekitar 20km/jam, angin menjadi sangat dingin, tanganku gemetaran memegang sepeda. Selagi berjalan aku berpikir kenapa mereka begitu baik, aku jadi teringat cerita ibuku tentang penjual organ manusia, mengingat itu aku jadi tambah merinding. Beberapa ratus meter ke depan, ada jalan yang sedikit melekuk. Kami berhenti disana, jantungku langsung berdetak kencang, apakah gosip tersebut benar? Salah seorang dari mereka mengeluarkan semacam alat tajam, aku jadi tambah takut. Ia menyuruhku turun dan pergi ke pinggir jalan. Setelah menenangkan diri, ternyata mobil itu hanya numpang saja, numpang keluar dari banjir. Beberapa orang dari mereka naik mobil tersebut untuk pulang. Jadi mereka hanya numpang sampai jalan tol saja. Kekhawatiranku sirna saat itu. Kamipun melanjutkan perjalanan.

Baru kali ini aku melihat jakarta, dengan truk bak terbuka. Truk yang tadinya melaju sekitar 20km/jam jadi menambah kecepatannya mungkin sekitar 60km/jam. Ngebut sekali! Aku merasa sangat berdebar- debar, lebih berdebar dibandingkan naik halilintar di Dufan. Rambutku terbang berdiri. Hawa dingin yang menusuk pun tak kuhiraukan lagi, aku sangat menikmati perjalanan mendebarkan dan melihat pemandangan malam Jakarta yang (lumayan)indah. Aku melihat ada papan bertuliskan ”Mal Kemayoran 500 meter lagi”, beberapa saat kemudian ada tulisan palang. ”Keluar tol Kemayoran 1 Km lagi”. Setelah itu kulihat keluar tol kemayoran 500 meter lagi dan papan Carrefour juga bertuliskan itu.

”Wah berarti yang pasang palang Mal Kemayoran tadi salah tuh, dudut”, pikirku

Kami keluar dari tol Kemayoran dan naik jalan layang Kemayoran. Aku merasa banjir ada gunanya juga. Angin malam jadi lumayan segar, tidak sumpek lagi.

Kami melanjutkan perjalanan dan supir berhenti di tanjakan di depan lampu merah. Ia membeli 2 buah Paramex. Yang membuatku kagum, di tanjakan seperti itu truk bisa menanjak mulus tanpa ngadat- ngadat. Betul- betul supir hebat. Kami melanjutkan perjalanan, jalanan sangat sepi. Sampai di depan Hero, sepedaku diturunkan. Aku berterima kasih banyak pada semua orang, bersalaman pada mereka semua. Aku tidak tahu harus berkata apa pada mereka.

Salah seorang dari mereka bilang.

”Kami baik kan? Kamu harus baik juga pada orang lain”.

Saat mendengar itu hatiku langsung menangis, Aku biasa berbuat baik hanya jika tidak ingin direpotkan. Aku jadi teringat orang di pom bensin Artha tadi, aku seperti dia, jika direpotkan tidak ingin berbuat baik. Aku bertekad untuk menjadi seperti pak Iwan, 2 Satpam, dan orang- orang dari showroom Toyota tersebut.

Aku menjawab.

”Ya pak, pasti pak”, kataku tegas.

Akupun meninggalkan mereka dan masuk kompleks perumahanku, di pos penjaga aku menyapa 2 orang hansip disana. Ya aku sudah bisa menyapa orang lain. Biasanya aku hanya lewat tanpa melihat hansip- hansip disana. Salah seorang dari hansip bertanya padaku, apa aku anak dari blok F(blok rumahku). Ia bilang kalau aku sejak dari tadi dicari- cari. Mendengar itu aku cepat- cepat menembus banjir di jalan dan masuk ke jalan rumahku. Ternyata jalan di rumahku sudah kering.

Moral yang kudapat dari petualangan ini :

  1. Rasa penasaran itu bagus tapi sebelum memuaskan rasa penasaran harus berpikir matang- matang dulu
  2. Habiskan makanan, siapa tahu besok tidak bisa makan lagi
  3. Tidak semua orang itu baik dan tidak semua orang itu buruk
  4. Berbuat baik harus didasari hati yang benar- benar tulus, jangan berbuat baik setengah- setengah, lebih baik tidak usah jika ragu- ragu
  5. Ternyata tuhan itu benar- benar ada
  6. Harus ramah terhadap orang lain
  7. Rumah itu memang tempat terbaik
  8. Merasakan bagaimana rasanya korban banjir
  9. Membuat keputusan diantara pilihan sulit
  10. dan masih banyak yang lain

Keterangan :

- Garis Bawah: Kalimat yang kugarisbawahi itu adalah ’jalan’. Keputusan diantara 2 pilihan terjadi disana. Kalau misalnya aku memilih jalan lain maka tidak akan seperti itu hasilnya.

Seperti ini contohnya , Akupun penasaran seberapa tinggi banjir di IBII??

Disana aku memutuskan untuk pergi melihat IBII, kalau misalnya aku langsung pulang maka petualangan ini tidak akan aku alami. Dan ini juga Aku memutuskan untuk minta ijin untuk menginap di pos satpam sehari saja.

Jika waktu itu aku tetap nekat meneruskan perjalanan mungkin hari ini aku sudah ditemukan sebagai mayat.

- Tulisan Miring : Tulisan miring itu adalah ’pikiran’ bukan ucapan, jadi aneh bukan kalau sepanjang cerita mengucap terus? Nanti jadi mirip sinetron dong, pemerannya aneh2 banget masa rencana jahat diucapin bukan dipikirin, cape deh :p

Tambahan :

Cerita ini tidak bermaksud menggurui, hanya memberikan pengalaman hidup yang terjadi akibat rasa penasaran.